Film dan Melankoli

Listening to : Shawn Mendes - Stitches 


Aku masih belum juga menyelesaikan novel yang aku pernah tulis di post sebelumnya. Hari ini, aku menghabiskan waktuku dengan menonton 3 film. The Half of It, Scent of A Woman, No Reservations.
Jujur saja, aku melewatkan banyak bagian di Scent of A Woman. Aku yakin film itu adalah film yang bagus, karena akting Al Pacino sangatlah keren, terutama di bagian akhirnya, tapi aku melewati banyak bagian karena aku tidak suka dengan alurnya yang lambat. Memang, aku tidak punya kesabaran jika menonton film sendirian, kecuali di bioskop. Aku akan melewatkan banyak bagian hingga aku tiba di bagian yang aku sukai saja.

Saat menonton The Half of It, aku kira Ellie tidak menganggap Aster sebagai romantic interest, tapi ternyata begitulah adanya. Aku sudah mendengar spoiler bahwa film ini mengandung same-sex interest, tapi aku tidak mengharapkan demikian. Aku ada sedikit kecewa karena menurutku Aster mungkin mencari teman perempuan yang tulus ingin berteman dan berbagi cerita dengannya. Aku tidak suka menerka-nerka orientasi seksual seseorang, karena itu adalah urusan pribadi mereka. Jika mereka memang ingin mengakui secara terbuka kepada kita, aku hargai, tapi jika tidak, bukan urusanku untuk menerka-nerka (dan memaksa mereka untuk memberitahu kita). Namun, ku akui The Half of It tidaklah seperti roman biasanya. Cerita remaja yang sedang mencari jati diri, itulah yang aku tangkap. Karakter Paul Munsky adalah yang paling lucu, menurutku. Dia sangat polos, apa adanya, juga sangat jujur pada dirinya sendiri. Aku ingin menjadi diri yang seperti itu. Yang belum tersentuh dengan "kekotoran".
Satu pertanyaanku saja, apakah Ellie sangat yakin bahwa Aster juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya sampai berani mencuri ciuman dari Aster? 
Yah tapi Aster juga tidak menolak dan tidak memukul Ellie, jadi kurasa perasaannya Ellie berbalas ...?

Lain dengan No Reservations yang menurutku adalah rom-com. Aku sangat menyukai peran Catherine Zeta-Jones dan beliau sangatlah cantik. Cantiknya tipe klasik, dengan struktur rahang yang khas. Ini menurut pengamatan sekali-lewatku saja ya. Perannya di dalam film ini pun juga sangat bagus, mendalami tokoh yang ia perankan.


Aku baru saja melalui melankoli dadakan semalam. Tiba-tiba aku merasa sedih dan ingin menangis. Aku rasa itu adalah perasaan yang terpendam sejak 2 hari yang lalu dimana aku merasa tertekan dengan keadaanku yang seperti belum nampak masa depannya akan kemana. Hah. Aku sangat butuh teman dimana aku bisa bercerita langsung dan menumpahkan apa yang aku pendam. Namun, situasi saat ini sangat tidak memungkinkan bagiku untuk bertemu dengan orang di luar dan aku tidak ingin membebani orangtuaku, terutama ibuku dengan perasaan terpurukku.
Terkadang aku berpikir, apakah jika aku memiliki pasangan hidup, orang itu bisa membantu meringankan beban hatiku? Aku tidak tahu. Bisa saja dia akan bertindak seperti ayahku yang terkadang ketus kepada ibuku saat ibu ingin perhatian darinya. :(

Ah, rasanya aku makin ingin menangis jika bercerita tentang orangtuaku. Aku tidak pernah tahan jika melihat ibuku bersedih. Rasanya hatiku pun ikut diremas-remas. Setiap dia merasakan sakit, entah jarinya yang terluka, terkena panas kuali, ataupun dia bercerita dengan sedih kepadaku, aku merasa sedih dan sakit, hati yang diremas-remas.


Aku harap, jika ada yang membaca blog ini, kalian sehat selalu dan berbahagia selalu. Berjuanglah. :)

Comments

Popular posts from this blog

Journal 112

Blessed - Bersyukur

Journal 74: Mimpi-mimpi Seorang Pemimpi