20.2.14

Journal 118: My Internship Story

Sebagaimana yang kita tahu, (ceile, bahasanyaa bukkk), internship itu magang, magang berarti kamu mencoba mencari pengalaman di dunia bekerja, dan namanya magang dan sebagai seorang trainee, gaji kamu bahkan ngga mencukupi buat makan sehari-hari. ngga usah makan, transport pulang pergi tempat kerja aja kadang melebihi gaji kamu, which is di bawah standar UMR. Mending kalo kamu digaji, kalo ngga digaji tapi disuruh-suruh kerja ini itu kayak babu gimana? Ribet kan?

Menurut saya, magang itu adalah dimana orang-orang intelek yang masih fresh graduate <strikethrough> kayak rumput baru dipotong buat dikasih makan sapi</strikethrough) buat nyari pengalaman kerja dengan terjun secara coba-coba di dunia kerja dalam jangka waktu yang pendek. Kalau kamu pikir magang itu sesuai dengan apa yang dikatakan bos atau dari pihak kampusmu, bahwa kamu akan mempelajari banyak hal di suatu perusahaan secara bertahap, sebaiknya kamu jangan berharap lebih dengan memikirkan bahwa dengan sekali magang, kamu akan jago dan menguasai/mengetahui banyak hal dalam bidang industri tersebut, karena kamu bakalan stuck di satu posisi itu, mengerjakan hal yang memang seharusnya kamu kerjakan (which I believe they already planned it for you before you came into the company), terutama kalo company kamu kecil dan ngga banyak karyawannya, kamu bakal jadi pembantu umum/helper. Sebut saja pengalaman saya sekarang, saya membantu semua karyawannya. Dikarenakan perusahaan ini kecil, cuma ada 3 karyawan, salah satunya seorang akuntan. Maka, saya membantu pekerjaan 3 orang ini, dari pergi ke bank, mengirim email, scanning, fotokopi, ngeprint, bikin ringkasan, kirim request ke supplier, saya sampai bingung mau menyelesaikan yang mana dulu. Bos paling tinggi sudah meminta saya mengerjakan ini sampai selesai, karyawan 1 minta saya mengerjakan ini selesai sekarang juga, karyawan 2 dan 3 meminta saya membantu mengerjakan pekerjaan mereka selesai sekarang juga. Saya sampai berpikir bisa tidak saya pakai kagebunshin no jutsu, membelah diri begitu. Padahal saya pikir, kebanyakan yang magang biasanya santai karena gaji tidak begitu besar dan mereka biasanya kurang dipercaya untuk mengerjakan hal penting, tapi kok saya sibuk sekali ya walaupun mengerjakan hal yang kurang penting? hahaha.

Saya akui, magang pertama saya ini, tidak sesuai dengan harapan saya, harapan yang telah dibentuk oleh saya, dan dibangun lebih tinggi oleh bos saya. Bos saya menjanjikan hal2 yang saya inginkan, bahwa saya akan mempelajari segalanya dalam waktu 3 bulan. Nyatanya, bos saya malah sibuk dan dinas melulu, sementara saya masih mengerjakan hal pertama yang dia perintahkan, dimana pekerjaan itu sebenarnya continuous, tidak bisa selesai dengan cepat dan harus di follow up terus, sementara apa yang akan saya pelajari selanjutnya (yang telah direncanakan) pada akhirnya dilupakan begitu saja, dan saya seperti orang yang terpaksa melamar kerja dengan bekerja apa saja demi gaji.

Pesan untuk diri saya sendiri, saya tidak akan berharap lebih terhadap magang. Apapun itu yang dikatakan atasan saya nantinya, saya hanya akan meng-iyakan dan senyumin saja. Saya sudah tidak berharap banyak lagi. Asalkan saya bisa lulus dengan baik dari universitas, saya merasa cukup. Namun, menurut saya, selama magang, kamu akan belajar banyak hal mengenai transisi dari waktu kamu sebagai seorang pelajar hingga menjadi seorang pekerja. Untuk itu, nikmati saja apa yang kamu dapatkan, dan jangan berharap lebih! :)